ANTIHISTAMIN II ( TURUNAN PROPILAMIN DAN FENOTIAZIN)
Pada Antihistamin I telah dijelaskan tentang turunan etilendiamin dan kolamin selanjutnya akan dijelasakan struktur Antihistamin II (turunan fenotiazin dan propilamin)
Antihistamin adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan kerja histamin dalam tubuh melalui mekanisme penghambatan bersaing pada sisi reseptor H1, H2 dan H3. Antihistamin bekerja terutama dengan menghambat secara kompetitif (bersaing) interaksi histamin dengan reseptor histaminrgik.
TURUNAN FENOTIAZIN
Obat golongan ini memiliki efek
antihistamin dan antikolinergik yang tidak begitu kuat, tetapi memiliki daya
neuroleptik kuat sehingga digunakan pada keadaan psikosis. Selain itu juga
memiliki efek meredakan batuk, maka sering dipakai untuk kombinasi obat batuk.
Atihistamin golongan ini antara lain prometazin, tiazinamidum, oksomemazin, dan
metdilazin.
Turunan fenotiazin mempunyai struktur kimia karakteristik yaitu sistem tri siklik tidak planar yang bersifat lipofil dan rantai sampinng alkilamino yang terikat ada atom N tersier pusat cincin yang bersifat hidrofil. Rantai samping tersebut bervariasi dan kebanyakan merupakn salah satu struktur sebagai berikut : propildialkilamino, alkilpiperidil atau alkilpiperazin. Turunan fenotiazin dugunakan untuk pengobatan gangguan mental dan emosi yang cukupan sampai berat, seperti skizofrenia, paranoia, psikoneurosis (ketegangan dan kecemasan)seta psikosis akut dan kronik. Banyak turunan fenotiazin mempunyai aktivitas antiematik, simpatolitik atau antikolinergenik. Turunan fenotiazin juga mengadakan potensiasi dengan obat-obatsedatif-hipnotika, anagetika narkotik atau anesthesia sistemik. Penggunaan dosis tinggi menimbulkan efek samping berupa gejala-gejala ekstrapiramidal dengan efek seperti pada penyakit Parkinson. Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan hipotensi, agranulisitosis, dermatitis, penyakit kuning, perubahan mata, dan kulit serta sensitive terhadap cahaya.
Farmakodinamik :
Fenotiazin mempunyai efek
farmakologi yang meliputi efek pada susunan saraf pusat, system otonom, dan
system endokrin. Efek terjadi karena antipsikosis menghambat berbagai reseptor
diantaranya dopamine, reseptor Ξ±-adrenergik, muskarinik, histamine H1 dan
reseptor serotonin 5HT2 dengan afinitas yang berbeda. Pada ssp menimbulkan
sedasi. Pada otot rangka menyebabkan relaksasi otot rangka. Dan pada hipotensi
ortostatik dan peningkatan denyut nadi saat istirahat.
Farmakokinetik :
Kebanyakan antipsikosis di absorpsi
sempurna, sebagian diantaranya mengalami metabolism lintas pertama.
Bioavailabilitas klorpromazin dan tioridazin berkisar 25-3% sedangkan
haloperidol mencapai 65%. Kebanyakan antipsikosis bersifat larut dan terikat
kuatdengan protein plasma serta memiliki volume distribusi yang besar (lebih
dari 7 L/Kg). metabolit klorpromazin di temukan di urin sampai beberapa minggu
setelah pemerian obat terakhir.
Contoh turunan fenotiazin yang terutama diguanakan sebagai antipsikosis adalah prometazin, klorpromazin, trifluoperazin, teoridazin,
Dikatakan memiliki efek analgesik sedikit. Prometazin merupakan turunan fenotiazin yang menghalangi kompetitif histamin (H 1) reseptor dan menunjukkan sifat anti - muntah dan obat penenang. Penyembuhan PONV biasanya dicapai dalam waktu 5 menit selepas diberi IV infus prometazin dan berlangsung selama 2-6 jam. Kelemahan utama untuk penggunaan prometazin untuk pasien bedah rawat jalan adalah efek sedatif nya. Efek sampingnya adalah efek sedatif sehingga menunda waktu pemulihan pasca operasi pasien, dan seterusnya akan membuatkan ambulansi dan asupan cairan tertunda serta meningkatkan kebutuhan untuk intervensi keperawatan, dan hasilnya akan membuatkan kepuasan pasien menurun.
Farmakologi :
prometazin, turunan fenotiazin secara struktural berbeda dari fenotiazin neuroleptik, dengan efek yang serupa tetapi berbeda. Ia bertindak terutama sebagai antagonis kuat dari reseptor antihistamin dan antikolinergik. penggunaan lain dari prometazin adalah sebagai anestesi lokal dengan memblokir saluran natrium.
Farmakokinetik :
farmakokinetik turunan fenotiazin yaitu prometazin berupa absorbsi, distribusi dan ekskresi
- Absorbsi
prometazin diabsorbsi sempurna di dalam saluran cerna dan kadar plasma tertinggi dicapai 2- 3 jam
- Distribusi
prometazin sekitar 76-93 % dalam plasma darah terikat protein
- Ekskresi
prometazin diekskresikan terutama melalui urin dan empedu
Klorpromazin
Chlorpromazine merupakan obat antipsikotik jenis phenothiazine. Obat ini bekerja dengan cara menghambat reseptor dopamine D2 yang ada di otak, sehingga dapat meredakan gejala psikosis. Obat ini akan membantu penderita skizofrenia untuk bisa berpikir lebih jernih, lebih tenang, dan mengurangi halusinasi, sehingga penderita bisa melakukan aktivitas sehari-hari.
Farmakologi
Farmakologi chlorpromazine adalah sebagai antipsikotik dengan memblokade reseptor dopamin dan sebagai tranquilizer minor dengan memblokade reseptor histamine.
Farmakodinamik
Chlorpromazine adalah neuroleptik yang bertindak dengan menghambat reseptor dopamin post sinap, terutama di area sistem dopaminergik mesolimbik. Obat ini juga mampu mencegah pelepasan hormon-hormon hipotalamus dan hipofisis.Chlorpromazine juga bertindak sebagai tranquilizer minor dengan cara menghambat reseptor histamin.
Farmakokinetik
Farmakokinetik chlorpromazine yang diberikan secara oral akan mengalami first pass metabolism secara ekstensif, sehingga bioavailabilitasnya hanya 20%.
- Absorpsi
Obat chlorpromazine diabsorpsi baik setelah konsumsi per oral. [2, 4] Bioavailabilitas obat berkisar 20% setelah melewati metabolisme di hepar, dengan onset kerja obat per oral sekitar 30‒60 menit. Konsentrasi puncak plasma obat oral tercapai dalam waktu 2‒4 jam. Sedangkan, konsentrasi puncak pada pemberian intramuskular tercapai dalam waktu 15‒30 menit.
- Metabolisme
Chlorpromazine per oral, setelah diabsorpsi akan dimetabolisme secara ekstensif di hepar, melalui jalur utama isoenzim sitokrom P450, yaitu CYP1A2, dan CYP3A4, menjadi 10‒12 metabolit-metabolit utama. seperti 7-hidroksichlorpromazine, dan chlorpromazine N-oksida.
- Distribusi
Distribusi chlorpromazine sekitar 92-97% berikatan dengan protein. Volume distribusi obat berkisar 20 L/kg. [5] Chlorpromazine melewati sawar plasenta dan sawar darah-otak. Obat ini juga diekskresikan ke dalam ASI.
- Eliminasi
Waktu paruh biologis dilaporkan berkisar 30 jam. Obat dieliminasi melalui urin dan feses dalam bentuk metabolit aktif dan inaktif.
TURUNAN PROPILAMIN

Obat golongan ini memiliki daya antihistamin yang kuat. Antihistamin golongan ini antara lain feniramin, khlorpheniramin, brompheniramin, dan tripolidin.
Chlorpheniramine Maleat
Farmakologi
Peran penting dari farmakologi chlorpheniramine maleat / CTM, dikenal juga sebagai klorfeniramin maleat atau klorfenamin maleat, sebagai zat antagonis H1 (antihistamin) adalah mekanisme kerja yang berguna untuk mengatasi tipe alergi yang bersifat eksudatif akut, seperti manifestasi simtom dari rhinitis alergi, urtikaria, dan konjungtivitis alergi.
Farmakodinamik
Mekanisme kerja chlorpheniramine sebagai antagonis H1, adalah berkompetisi dengan aksi dari histamin endogenus, untuk menduduki reseptor-reseptor normal H1 pada sel-sel efektor di traktus gastrointestinal, pembuluh darah, traktus respiratorius, dan beberapa otot polos lainnya. Efek antagonis terhadap histamin ini akan menyebabkan berkurangnya gejala bersin, mata gatal dan berair, serta pilek pada pasien. Chlorpheniramine maleat memiliki efek antikolinergik, dan sedatif ringan.Diperkirakan bahwa mekanisme antihistamin obat ini, juga memiliki efek antiemetik, antimotion sickness, dan antivertigo, berhubungan dengan kerja obat dalam memengaruhi antikolinergik pusat.Obat antagonis H1 klasik, dapat menstimulasi dan mendepresi susunan saraf pusat.Chlorpheniramine yang digunakan secara topikal, dapat meredakan pruritus.
Farmakokinetik
Farmakokinetik chlorpheniramine maleat adalah sebagai berikut:
- Absorpsi
Obat chlorpheniramine diabsorpsi baik setelah konsumsi per oral. Bioavailabilitas obat sekitar 25‒50%. Konsentrasi puncak tercapai dalam waktu 2‒3 jam. Masa kerja obat adalah sekitar 4‒6 jam. [6]
- Metabolisme
Chlorpheniramine terutama dimetabolisme di hepar, melalui enzim sitokrom P450 (CYP450). Antihistamin H1 merupakan salah satu golongan obat yang menginduksi enzim mikrosomal hepatik, dan dapat memfasilitasi metabolismenya sendiri.
- Distribusi
Sekitar 72% chlorpheniramine dalam plasma darah terikat protein.
- Eliminasi
Waktu paruh obat dalam plasma darah, bervariasi sekitar 12‒15 jam, hingga mencapai 27 jam. [2] Waktu paruh dapat berdurasi sekitar tiga kali lebih lama daripada efek terapeutiknya. Sebagian besar chlorpheniramine dikeluarkan oleh tubuh, melalui urine.
DAFTAR PUSTAKA
Cartika, Hapolia. 2016. Kimia
farmasi. Jakarta.PPSDM Kesehatan.
Kawuri,W.T.,Ratih,D.Y dan
Novan,A.S.2019. Efek Antihistamin Ekstrak Daun Jambu Biji (Psidium
guajava) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) dengan
Diinduksi Ovalbumin. Smart Medical Journal. 2 (1) : 19 – 24.
Siswanto. 2000. Kimia Medisinal jilid 2.Jakarta : Airlangga.
Siswandono dan Soekarjo, B. 1995.Kimia Medisinal. Surabaya:
Airlangga University Press.
PERTANYAAN
1. Bagaimana respon tubuh dan interaksi yang terjadi jika penggunaan obat turunan propilamin (CTM) diberikan secara bersamaan dengan obat sedativ hipnotik(benzodiazepine)?
2. Adakah faktor tertentu yang dapat meningkatkan dan menurunkan aktivitas kerja obat turunan fenotiazin ?
3. Apakah ada antihistamin yang efektif dan tidak mempunyai efek samping yang disebut sebagai neutral antagonist ? jika ada bagaimana mekanisme kerja pada obat tersebut?



Mantap mbak
BalasHapusTerimakasih kak blog nya sangat membantu dan mudah di pahami
BalasHapusTerima kasih atas ilmunya, sedikit menjawab permasalahan nomor 2, salah satu hal yg dapat berhubungan dgn aktivitas dari turunan fenotiazin adalah dgn cara memodifikasi rantai sampingnya, yaitu dgn pemasukan gugus halogen pada posisi 2 dan perpanjangan atom C rantai samping dpt meningkatkan aktivitas antipsikotik (tranquilizer) serta di satu sisi menurunkan efek antihistamin.
BalasHapusArtikelnya sangat membantu. Izin menjawab permasalahan no 3 ya.. Belakangan ini penelitian mengenai anti-histamin berkembang dengan pesat, demi peningkatan nilai pengobatan penyakit alergi, sampai saat ini masih terus diusahakan menemukan antihistamin yang efektif dan tidak mempunyai efek samping, yang disebut sebagai neutral antagonist. Dimana diharapkan antagonis netral ini dapat mempunyai khasiat blokade reseptor H1 ditambah dengan beberapa khasiat lainnya, tetapi tidak mempunyai efek samping yang tak diharapkan, sehingga merupakan antihistamin yang mem-punyai karakter spesifik. Namun, sampai saat ini belum teridentifikasi antagonis netral tersebut, sehingga sering yang diartikan dengan antagonis netral adalah antagonis H1 yang efektif pada pengobatan penyakit alergi.
BalasHapuswaw artikelnya sangat membantu sekali,terimakasih ya
BalasHapusbagus sekali artikelnya pmaparannya jelas dan dimengerti
BalasHapusWaah keren kak blog nya sangat membantu
BalasHapusWah keren kak blog nya sangat membantuu
BalasHapusIni yang paling lengkap ππ
BalasHapusTerimakasih atas informasinya,
BalasHapussangat membantu dan bermanfaat sekali kak terimakasih infonyaπππ
BalasHapusTerimakasih Ilmunya kak
BalasHapusTerimakasih infonya kak, sangat bermanfaat
BalasHapusππππ
BalasHapusTerima kasih, blognya sangat bermanfaat
BalasHapusBlog nya luar biasa semangat kak
BalasHapusmakasi ya kak infonya sngt mmbntu
BalasHapus